Monday, July 25, 2016

Nunung Nurlaela, muslimah multi talenta

Kali pertama kami jumpa di rumah makan “Bumbu Desa”, perempuan manis berlesung pipit ini duduk di depan saya, sesekali ia menyusui buah hatinya. Saat itu kami tidak banyak ngobrol. Itulah moment pertama saya ikut kopdar sekaligus syawalan KEB Jogja. Ternyata kami satu komunitas pula di IIDN, klop deh. Hingga saat ini tak terhitung berapa kali kami telah merajut pertemuan demi pertemuan. Semakin lama saya mengenalnya semakin takjub padanya. Sejak lama saya menyukai dan terpesona dengan penampilannya, gamis anggunnya, khimar cantiknya. 


Sarah, Nurul, Nunung, Irul, Riri, Manda (foto hasil jepretan Manda)

Kami memanggilnya Mak Nunung, sesekali saya memanggilnya Ummu Haziq. Usia kami sepantaran, tapi jangan ditanya perbandingan jumlah anak. Yes, seorang Nunung Nurlaela telah dianugerahi lima anak, subhanallah. Tak terbayangkan dalam benak saya mengandung dan melahirkan berkali-kali. Dan selama mengandung, aktivitas Mak Nunung tidak terlampau berbeda dibandingkan kala tidak hamil. Kodrat seorang perempuan, Allah sematkan keperkasaan dan ketangguhan untuk hamil dan melahirkan.

Suatu ketika saya bertanya, “Mak Nunung telah lima kali melahirkan, apakah bagi Mak Nunung, hal ini berat?” Coba tebak apa jawaban Mak Nunung

“Berat dalam hal apa Mak? Kalau tentang kesiapan, yang ke lima ini sebenarnya saya enjoy Mak, walau ga siap 100% karena baru memulai karir sebagai dosen tet├áp (dulu masih tidak tetap sampai saya lulus S2) baru mau merintis dan sudah sukses nyapih dan mengkondisikan Haziq, ternyata Allah kasih amanah lagi ke saya. Rasanya campur-campur. Antara senang dan khawatir. Tapi lebih banyak disyukuri karena memang target saya adalah punya anak 5”

Wow ternyata target memang 5 anak, pemirsah. Putri sulung Mak Nunung seumuran dengan Yazdan, anak semata wayang saya. Lima anak, dua perempuan dan tiga laki-laki, sungguh sempurna.

Saat ini aktivitas Mak Nunung mengajar di STEI Hamfara, profesi sebagai dosen membuat Mak Nunung fleksibel mengatur waktu, karena anak-anak yang sudah besar pun juga bersekolah.

Posisi saya sebagai ibu bekerja, yang mengabdikan waktu dari pagi hingga sore di kantor, praktis, membuat saya mempunyai penghasilan sendiri. Hal ini membuat saya ingin mendiskusikan tentang perlukah perempuan mandiri secara finansial. Kemudian Mak Nunung mengungkapkan pendapatnya

“Dalam Islam, seorang perempuan ketika sudah menikah, tugasnya adalah sebagai ummu wa rabbatul bait. Ibu, dan manajer rumah tangga. Nah, ketika dia mau bekerja, pastikan tugasnya tidak terabaikan.

Sejatinya perempuan itu hukumnya mubah jika bekerja. Nah tinggal dilihat mubahnya itu. Melalaikan atau tidak.

Perempuan itu sejatinya sangat dimuliakan. Ia tidak wajib bekerja. Suaminyalah yang mencukupi nafkahnya. Jika suami tidak mampu, walinya. Jika tak mampu juga, maka negaralah yang seharusnya mencukupinya. Begitu idealnya. Realitanya ya bisa kita lihat sendiri kan, Mak? Banyak suami yang lupa kewajibannya. Apalagi di zaman kapitalis ini, yang tolok ukurnya lebih ke materi. Jadi, ya tergantung sih, Mak. Kalau saya ya meski bisa menghasilkan uang, tetap merasa saya sudah ada yang nanggung nafkah. Dan berusaha tetap selaraskan semua kebutuhan”.

Pendapat Mak Nunung, membuat hati saya tenang. Toh, selama ini pun saya tenang menjadi ibu bekerja, semuanya dikembalikan kepada Allah, bahwasanya semua skenarioNya pasti yang terbaik. Namun, bagi Mak Nunung, awalnya sempat galau juga, di satu sisi Mak Nunung mempunyai niat kuat untuk mengamalkan ilmu dan melaksanakan amanah orangtua. Namun, bagaimana dengan kewajiban terhadap anak-anak. Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik, jadwal ngajar Mak Nunung dalam sehari kurang lebih empat jam, jadi semua bisa dikondisikan.

Pondasi dasar yang diterapkan Mak Nunung dan suami dalam mendidik anak yang terpenting adalah AQIDAH. Kemudian semua aktivitas haruslah diikuti dengan qimah / nilai, baik nilai ruhiyah, insaniyah, madiyah dan juga akhlaqiyah. Mak Nunung dan suami terus berusaha menjadi orang tua yang baik karena sejatinya orang tua adalah sekolah pertama untuk anak.

Jika mengulik lebih jauh tentang talenta ibu satu ini, tiada habisnya, multi talenta. Kepiawaiannya dalam merangkai kata dan kalimat telah terbukti dengan buku berjudul “Pondok Mertua Indah”, terbitan Gramedia. Buku ini sering dijadikan acuan oleh para menantu. Kita juga bisa berkunjung ke rumah maya Mak Nunung, prinsip dan keinginan Mak Nunung dalam nge blog sama seperti saya, menghidupkan blog dan update rutin.
Dua hal simpel yang membutuhkan konsistensi tingkat dewa.

Obrolan kami pun membicarakan mengenai komunikasi dalam berkomunitas, saya ingin tahu apa tips dari Mak Nunung untuk senantiasa menjalin hubungan baik dan harmonisasi, selain selalu menjaga perasaan dan hati orang lain? Jawaban Mak Nunung tetap menjalin komunikasi dengan baik, meskipun tidak bisa dengan seluruh anggota grup, yah dengan salah satunya. Tapi tetap tidak terkesan pilih-pilih teman. Karena keterbatasan waktu memang sesekali saja Mak Nunung menyapa, hal ini sangat dimaklumi.

Impian dan harapan Mak Nunung adalah melanjutkan studi S3 dan menulis banyak buku.

Teman-teman bisa jalan-jalan di rumah maya Mak Nunung, atau jika ingin berkenalan silakan langsung ke FB.

Friday, July 22, 2016

Sebuah Senyum Bahagia dari Liya

Liya Swandari, orangtua memberi nama.

Nama yang unik dan jarang dimiliki orang lain, alias bukan nama pasaran. Ibu dengan satu putri jelita, bernama Day. Hari-hari Liya saat ini dihabiskan untuk merawat dan menjaga sang bidadari kecil. Sesekali Liya membawa ke acara outdoor untuk mengenalkan putri kecilnya dengan dunia luar. Perempuan produktif, pemilik sanggar Hamam yang sejak kecil menyukai dunia menggambar dan mewarnai pernah menjalani kehidupan rumah tangga secara Long Distance Marriage. 




Senyum manis (kiri ke kanan, Nurul, Liya, Umi Azzura)


Rumah maya Liya, bisa di akses di www.senyumbahagia.com
 
Filosofi Liya menggunakan nama senyum bahagia karena Liya ingin semua orang yang baca blog bahagia dan tidak sedih lagi.

Senyum yang betul-betul bahagia, bukan senyum palsu.

Keinginan Liya untuk menjalani kehidupan normal tanpa berjauh-jauhan dengan suami, alhamdulillah tercapai 50 persen, karena sejak Maret 2016, suami tercinta sudah berkantor di Jogja walaupun beberapa kali masih tugas di luar kota.

Keseharian Liya tinggal di rumah orang tua di Sleman, dan kadang menginap di rumah mertua. Ada tips dari Liya dalam menjalani kehidupan bersama mertua, yakni, jadilah diri sendiri. Liya pernah mencoba menjadi apa yang mertua inginkan dan ternyata itu membuat Liya capek.

“Jadi, tetep jadi diri sendiri. Sama dengan orang tua kandung. Terkadang beda pendapat”, begitu Liya menyampaikan.

Liya kecil tumbuh menjadi Liya dewasa yang sangat menyayangi dan penuh perhatian kepada adik-adik. Sebisa mungkin Liya membersamai tumbuh kembang adik-adik, agar mereka senantiasa bahagia, sebagaimana bahagianya Liya kala masih kecil. Bahkan bermain bersama adik pun Liya bersedia. Liya berusaha membantu apapun kebutuhan adik-adik. Idealnya, seperti itulah sebuah hubungan persaudaraan.

Menjaga perasaan orang lain merupakan prinsip Liya dalam berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, terutama dalam komunitas-komunitas yang diikuti Liya baik dalam dunia nyata maupun dunia maya. Komunitas tentang kepenulisan pastinya yang diikuti Liya, sesuai dengan hobinya. Hobi Liya yang lain yakni menggambar. Keinginan Liya terdalam memiliki sanggar menggambar gratis, tujuannya agar semua anak dapat menikmati kebahagiaan seperti kebahagiaan yang selalu dirasakan Liya 





Semua tersenyum (kiri ke kanan, Mbak Nunung, Nurul, Mbak Wiwin, Liya)

 
Ingin mengetahui kebahagian Liya yang lain, singgahlah di senyumbahagia Liya

Tuesday, June 14, 2016

Kartika Nugmalia, MomBlogger Mirip Michelle Ziudith

Pagi itu cerah, di bulan syawal tahun 2013, untuk kali pertama saya melihatnya, di rumah Bunda Astriani Karnaningrum. Sosok wanita mungil nan ayu, dengan menggendong anak kedua. Di lain waktu saya bertemu kembali di sebuah gedung berdekatan dengan kridosono, masih dengan menggendong batita berjenis kelamin laki-laki. Gendongan yang dulu bagi saya aneh, karena dulu saya menggunakan jarit saat Yazdan masih kecil. Jaman kan berubah, bahkan berdampak pada model gendongan bayi. Kala itu saya belum mengenalnya, saya hanya bertemu di acara komunitas bisnis oriflame dan sesekali mengetahui kegiatannya di facebook. 
 
 
Beneran kan, kembaran Michelle Ziudith
 
 Michelle Ziudith
 

 
Sosok di paragraf pertama itu adalah Michelle Ziudith, ups, maksud saya Aya, yang mempunyai nama lengkap Kartika Nugmalia, saat ini telah mempunyai dua jagoan ganteng dan satu putri cantik rupawan. Tinggal disisi selatan Jogja, tepatnya masuk wilayah Bantul. Perawakannya mungil, layaknya anak SMP memasuki usia pubertas. Namun, jangan samakan penampilan fisik Aya dengan ketangguhan jiwa yang disematkan Tuhan dalam raganya. Dipastikan teman-teman akan kagum dengan sosok satu ini. 
 
 
Aya dan Suami, sumpah deh keren nih foto

 
Bersama dua jagoan
 
Kartika Nugmalia salah satu leader di bisnis MLM Oriflame, levelnya telah mencapai pada posisi Gold Director, sebuah pencapaian luar biasa hasil perjuangan dan dedikasi yang dipersembahkan untuk suami dan anak-anak. Aya mampu hadir menjadi sosok leader yang keren, hingga mampu melakukan edukasi sehingga teamwork Aya mampu menduplikasi action leadernya. Bagi Aya, leadership itu seni menjadi orangtua, menghadapi satu demi satu watak dan karakter yang dimiliki masing-masing team. Tipe berbeda, pola menghadapi juga berbeda, persis seperti Aya memperlakukan buah hatinya. Tips dari Aya adalah membagi energi positif kepada orang lain, sekaligus berusaha menangkal energi negatif yang muncul, tujuannya untuk menjaga mood diri sendiri. 
 
Capaian Aya di Oriflame
 
Sejak awal berjumpa Aya, bagi saya, wajah ayunya mirip artis Michelle Ziudith, fisiknya juga mirip, sama-sama kecil nan mungil, cakep kan. Mendampingi pria berdarah Sumatera, dan pernah menjalani profesi sebagai guru, hingga memutuskan fokus di rumah merawat ketiga buah hati dan tetap menjalani bisnis Oriflame. 
 
 
Aya, dan kedua buah hati, yang lengkap dengan ketiga buah hati ndak nemu nih di FB

Aya dan Aisha
Ulasan blogpost dari rekan-rekan blogger Jogja mengenai Aya, bernada sama, Aya ialah perempuan tangguh dan memiliki kekuatan luar biasa menghadapi apapun kepelikan kehidupan ini. Membimbing dan membesarkan putra putri dengan kelemahlembutannya, dengan penuh kesabaran. 
Kami, saya dan Aya masih akan merangkai waktu menjadi ibu, istri, dan kesamaan sebagai blogger dan mompreneur, dengan capaian kami masing-masing. 
 
Perjumpaan kami terakhir sekian bulan silam, di arisan ilmu yang mendatangkan Pungky Prayitno. Pastinya kami akan sering jumpa dalam acara-acara blogger, insya allah.
 
 

 
 
Perjalanan hidupnya lengkap terangkai dalam http://myvioletya.blogspot.co.id/
Menelusuri jejak-jejak kehidupan seorang Kartika Nugmalia, akan banyak memberi warna tersendiri untuk kehidupan kita.

Beberapa waktu lalu, Aya membuat status panjang di Facebooknya, berikut saya salin.

SUKSES
--------------
Begitu banyak orang memaknai kata sukses
Tapi ijinkan saya menyampaikan makna sukses menurut saya

Sebagai seorang guru TK,
Sukses adalah saat murid murid melewati hari harinya dengan penuh nilai nilai positif

Sebagai seorang blogger
Sukses adalah ketika banyak orang merasa ada manfaat yang bisa diambil ketika membaca sharing sharing lewat tulisan saya

Sebagai mompreneur
Sukses adalah ketika dalam team bermunculan leader-leader yang berhasil menjemput mimpi mereka dan membantu teamnya melakukan hal yang sama

Sebagai ibu
Sukses adalah ketika
Membuat rumah adalah tempat ternyaman
Dan orang tua menjadi sosok yang menyediakan pelukan terhangat untuk anak anak

Sukses adalah melakukan hal yang kita cintai
Dan ada rasa bahagia ketika melihat hasilnya :) 
(Status panjang sarat makna) 
 

Tiada hari tanpa tersenyum

Tiada hari tanpa bersyukur

Tiada bosan menghabiskan waktu merangkai persahabatan dengan sesama blogger

Semoga membawa manfaat, ingin tahu lebih tentang Aya, selain blogwalking ke blog Aya, teman-teman juga bisa jalan-jalan di Facebooknya.

~ Foto Michelle Ziudith diambil dari portal berita online tabloid bintang dan storibriti
~ Foto-foto Aya dan keluarga diambil dari Facebook Aya

Tuesday, April 19, 2016

Primastuti Satrianto, Kolaborasi Pebisnis dan Blogger

Sore itu saya masih di kantor, sengaja tidak segera pulang karena akan bertemu dengan perempuan cantik berjuta talenta. Hingga dering telepon masuk, menanyakan posisi saya. Segera saya keluar kantor menjemputnya. Perempuan itu keluar dari mobil, menyapa penuh kelembutan, kemudian mencium dan memeluk saya penuh kehangatan. Tinggi badannya termasuk di atas rata-rata untuk perempuan Indonesia, khususnya Jogja. Cara berjalannya khas, penuh keanggunan, hingga sekarang cara berjalan itu ingin saya tiru (dan belum berhasil). Kami pun menembus koridor kantor dan saya ajak ke satu spot di kantor yang membuat kami bisa ngobrol dengan santai. Itulah jumpa kali pertama dengan seorang Primastuti Indah Suryani, yang khalayak lebih mengenal dengan Primastuti Satrianto.

Setelah itu pertemuan demi pertemuan selalu menyatukan kami berdua, hingga kami merajutnya dengan penuh keindahan hingga saat ini, dan sampai jatah umur kami berakhir, Aaamiin. Kami memang bersatu dalam komunitas bisnis, Oriflame, Eang Ima, kami para tim memanggil, kemudian saya mempunyai panggilan kesayangan Yankti. Dan, Yankti saya yang kecantikannya mutlak ini pun memanggil saya, Yankcit. Intensitas perjumpaan karena Oriflame membuat saya hafal isi rumah, dari ruang tengah untuk belajar bersama, dapur, kamar mandi, hihihihihi. 

FB Nurul Al Amin
FB Nurul Al Amin

FB Nurul Al Amin

Eang Ima (Yankti versi saya), adalah seorang leader yang kompetensinya tak diragukan lagi. Membimbing tim yang belum tahu dan belum bisa apa-apa, hingga lihai. Caranya membantu menyelesaikan masalah, hingga kesediaannya memasak untuk kami para tim-nya. Ooooh, asiiiik-nya. Kami, para tim-nya, bagaikan gelas kosong yang kemudian terisi penuh dengan berbagai ilmu. Bisnis Multi Level Marketing yang sudah puluhan tahun menancapkan kukunya di Indonesia ini, men-design para leadernya untuk mampu mentransfer ilmu ke tim dengan cara yang luar biasa. Soal attitude, personal development, etika bisnis, dan lain sebagainya yang mampu mengubah seorang yang tidak bisa apa-apa hingga tumbuh menjadi sosok berbeda yang lebih spektakuler. Maka, syukur tiada terhingga atas skenario Allah mempertemukan dan menyatukan kami.

Waktu pun berjalan, frekuensi saya di Oriflame perlahan berkurang, namun komunikasi via WA maupun BBM selalu berjalan. Sosok Yankti masih menjadi mentor sekaligus motivator, menjadi sahabat tempat menumpahkan segala kegundahan dan kegelisahan di hati, bahkan tempat menumpahkan airmata.

Saat ini, kami disatukan kembali dengan komunitas KUMPULAN EMAK-EMAK BLOGGER. Hobi berbagi liputan makanan dan tempat wisata membuat seorang Primastuti Satrianto semakin menunjukkan eksistensi sebagai Blogger. Setiap perjalanan wisata alam ataupun wisata kuliner selalu dituangkan dalam goresan tuts keyboard menjadi sebuah rangkaian kisah yang renyah dan gurih, menjadikan pembaca dimanjakan dengan tempat referensi untuk menghilangkan penat dan lapar. Penasaran dengan isi blognya, langsung aja deh silakan blogwalking ke www.tamasyaku.com.

Dijamin langsung akan membuat kita bertanya ke diri sendiri, kapan terakhir tamasya. O iya ada kekhasan lagi nih dari Primastuti Satrianto, panggilan Ima dan Manda menjadi panggilan kesayangan bagi orang-orang yang mengenalnya, baik kenal secara personal ataupun kenal secara umum. Dan, sepertinya panggilan Manda menjadi favorit, saya pun kemudian suka dengan panggilan Manda, suka, suka, sukaaaaa. Pastinya, kalau ada Manda, ada Panda dong. Yap, Panda ini jelas pasangan dan teman hidup Manda, saya memanggilnya Mas Elton. Pria ramah senyum dan penyabar, yang selalu menemani suami saya, saat kami berkunjung ke rumah Manda. Teman-teman blogger selalu takjub dengan kekompakan pasangan suami istri yang satu ini. Karena dari kolaborasi Manda dan Panda, hadirlah foto-foto ciamik, cerita-cerita keren tempat wisata dan makanan lezat yang menggugah selera.

Hal yang sudah menjadi kebiasaan setiap bertemu Manda adalaaaaaaaaah, traraaaaa, selfie lho, eh wefie tepatnya. Manda ini jago banget soal selfie maupun wefie, hasilnya itu, seperti diambil atau dijepret oleh orang lain. Ilmu ini yang saya belum dapat dari Manda. Sehingga kedatangan Manda, secara otomatis membuat kami langsung bergaya dengan berbagai pose. Meskipun, suka selfie dan wefie, tidak menjadikan Manda seseorang yang hobi gonta-ganti gadget. Tiga tahun saya mengenalnya kesederhanaan Manda sangat terpancar, pun soal HP. Manda akan setia dengan HP itu, hingga akhirnya HP itu yang sudah tidak bisa lagi setia karena rusak.
FB Primastuti Satrianto

Manda adalah perempuan cantik bermata indah, saat kami berbincang jika Manda menyampaikan sesuatu, matanya selalu berbinar-binar. Jika saya bercerita wajahnya akan lurus, matanya dengan penuh kelembutan memandang, dan telinga dengan seksama mendengar. Sesekali saat berbicara, Manda akan membuat garis bibir yang tidak ada yang mempunya garis bibir seperti itu, kalau orang Jawa bilang terkadang “ngawet” atau seperti mengecap, tapi itu semua semakin menyempurnakan kecantikan wajahnya.
FB Primastuti Satrianto

Paragraf terakhir ini hanya bisa berdoa untuk Manda dan Panda senantiasa berbahagia, hidup penuh canda dan tawa. Selalu istiqomah menebar manfaat, menebar kebaikan, dan pastinya menebar kebahagiaan pula. Semoga semua hal yang dimohon kepada Pemilik Kehidupan ini dan semua doa-doa panjang yang dipanjatkan, senantiasa diperkenankan dan diijabah oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Aamiin Aamiin Ya Robbal ‘aalamiin.

Saturday, March 19, 2016

Asri Rahayu, Blogger Mungil Pecinta Novel






Profile Picture Asri di FB
Hampir dua tahun ini saya mengetahui, dan kemudian lebih mengenal sosoknya. Ia, bernama lengkap Asri Rahayu M S. Blogger satu ini, sosoknya mungil dan suaranya seperti balita. Saya menjadi familiar dengan keberadaannya, karena konsistensi Asri dalam merangkai kata dan kalimat berisi review dari sebuah buku. Kemudian review itu sering diupload di group IIDN Jogja. Doi sendiri belum pernah datang ke kopdar IIDN Jogja, namun beberapa bulan terakhir aktif di KEB, Kumpulan Emak-Emak Blogger Jogja. Saya menyebutnya si bungsu, karena penampilan fisiknya, dan bisa jadi umurnya memang paling bontot, disamping masih menjemput jodoh yang akan menjadi imamnya baik dunia maupun akhirat.


Arisan ilmu, 19 Maret 2016. Asri paling kanan (candid selfie)

Jujur genre buku antara saya dan Asri sangat berbeda jauh, Asri sangat mencintai novel, sedangkan saya, kurang berminat. Saya paling suka buku motivasi dan agama, yang bagi Asri buku motivasi itu berat, membosankan dan membuatnya ngantuk. Bagi seorang Asri, novel terkadang “bikin baper”, tapi setidaknya menyeimbangkan antara otak kiri dan otak kanan, karena dengan novel, kita bisa berimajinasi. Jika novel tersebut membuatnya mewek, maka bantal dan camilan menjadi sasaran kehidupannya (hatsaaah). Asri juga tidak suka politik, pas ada kesempatan ada undangan dari MPR RI bagi para netizen Jogja, Asri pun mundur dengan teratur. Bahkan Asri ini juga tidak suka nonton televisi, waktu luangnya lebih baik buat ngeblog. Yups, ini sih kereeen, harapan saya, Asri akan menemukan pujaan hati yang juga tidak suka nonton televisi, sehingga sama-sama bersinergi untuk menghilangkan si kotak alat eletronik itu dari kehidupan berumah tangga.

Hobi Asri mereview novel membuat ia sering mendapatkan novel gratis. Kalau ini memang sangat menyenangkan, dari hobi bawa hoki. Tipikal Asri memang pemalu, tertutup, banyak diamnya kala pertama bertemu dan berkenalan dengan orang. Tapi ternyata setelah lebih mengenalnya, rame juga blogger satu ini. Asri juga tidak suka ngemall saudara-saudara. Enak sangat menguntungkan kelak untuk suami Asri, karena sangat irit dan tidak buang-buang uang hanya untuk kongkow di Mall. Kata Asri dalam setahun, tidak ada lima kali ia ke Mal. Kebayang kan dengan orang lain yang tiap bulan ke Mall. Hal ini sama juga dengan saya, kami sekeluarga ke Mall karena memang ada barang atau sesuatu yang ingin dibeli. Jika pun kesana karena rengekan anak yang ingin main ke Mall. Nah, kebiasaan tidak suka ngemall ini juga bisa ditularkan kelak ke anak-anak. Ini sebagian isinya kompor panas buat Asri supaya segera melengkungkan janur kuning di jalan masuk ke rumahnya.


Koleksi novel ter-gress yang direview
Untuk membaca review yang lain langsung ke blog Asri ya www.asrirahayu.com

Nah, berikut lima pertanyaan yang saya ajukan ke Asri

1) Apakah pekerjaan sekarang sudah sesuai dengan disiplin ilmu yang diambil?
“Sebenarnya mau dibilang sesuai dengan ilmu yang diambil nggak juga ya, karena pada kenyataannya antara kuliah sama kerja itu beda jauh. Kenapa? Karena di dunia perkuliahan banyak teori yang dipakai, sedangkan dunia kerja, banyak prakteknya. Tapi setidaknya ilmu yang didapat di perkuliahan, sedikit-sedikit ada yang nyambung”

2) Apakah pekerjaan sekarang sudah klik dan nyambung dengan dunia blogging?
“Nggak nyambung, tapi disambung-sambungin aja. Asri kadang sukanya gitu, setidaknya ada ilmu yang didapat di dunia kerja dan bisa ditulis di blog”

3) Apakah hobi membaca ini sejak kecil sudah muncul?
“Iya semenjak kecil, semenjak udah bisa baca, udah kenal huruf. Terlebih Bapak dan Ibu suka banget beliin majalah Bobo waktu itu, dan buku cerita bergambar”

4) Blogger kan sekarang ini bargaining positionnya tinggi, menurut Asri bagaimana?
“Iya, memang tinggi. Tapi mungkin terkadang sampai nggak masuk diakal juga sih ya”
5) Apabila di prosentase, bagi Asri, tujuan ngeblog lebih pada kepuasan hati untuk sharing is caring” atau pada pencarian materi?
“Kepuasan hati, untuk materi, itu Asri anggap sebagai bonus rezeki dari Allah. Karena lebih senang kalau apa yang kita tulis memberikan manfaat buat orang banyak”

Pecinta buku, dan suka baca buku ini, kalau sudah ngobrol ternyata banyak becandanya. Karena di whatsapp, terpaksa deh ga bisa nyubit. Tulisan ini saya susun, berdasarkan obrolan dengan Asri di whatsapp. Maklum baru sekali ketemu, langsung nulis tentang sosok Asri.

Asri, semoga tulisan ini bisa menjadi cermin untuk kita.
Semoga apa yang dicita dan citakan Asri selalu diijabah oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Aamiin