Tuesday, April 19, 2016

Primastuti Satrianto, Kolaborasi Pebisnis dan Blogger

Sore itu saya masih di kantor, sengaja tidak segera pulang karena akan bertemu dengan perempuan cantik berjuta talenta. Hingga dering telepon masuk, menanyakan posisi saya. Segera saya keluar kantor menjemputnya. Perempuan itu keluar dari mobil, menyapa penuh kelembutan, kemudian mencium dan memeluk saya penuh kehangatan. Tinggi badannya termasuk di atas rata-rata untuk perempuan Indonesia, khususnya Jogja. Cara berjalannya khas, penuh keanggunan, hingga sekarang cara berjalan itu ingin saya tiru (dan belum berhasil). Kami pun menembus koridor kantor dan saya ajak ke satu spot di kantor yang membuat kami bisa ngobrol dengan santai. Itulah jumpa kali pertama dengan seorang Primastuti Indah Suryani, yang khalayak lebih mengenal dengan Primastuti Satrianto.

Setelah itu pertemuan demi pertemuan selalu menyatukan kami berdua, hingga kami merajutnya dengan penuh keindahan hingga saat ini, dan sampai jatah umur kami berakhir, Aaamiin. Kami memang bersatu dalam komunitas bisnis, Oriflame, Eang Ima, kami para tim memanggil, kemudian saya mempunyai panggilan kesayangan Yankti. Dan, Yankti saya yang kecantikannya mutlak ini pun memanggil saya, Yankcit. Intensitas perjumpaan karena Oriflame membuat saya hafal isi rumah, dari ruang tengah untuk belajar bersama, dapur, kamar mandi, hihihihihi. 

FB Nurul Al Amin
FB Nurul Al Amin

FB Nurul Al Amin

Eang Ima (Yankti versi saya), adalah seorang leader yang kompetensinya tak diragukan lagi. Membimbing tim yang belum tahu dan belum bisa apa-apa, hingga lihai. Caranya membantu menyelesaikan masalah, hingga kesediaannya memasak untuk kami para tim-nya. Ooooh, asiiiik-nya. Kami, para tim-nya, bagaikan gelas kosong yang kemudian terisi penuh dengan berbagai ilmu. Bisnis Multi Level Marketing yang sudah puluhan tahun menancapkan kukunya di Indonesia ini, men-design para leadernya untuk mampu mentransfer ilmu ke tim dengan cara yang luar biasa. Soal attitude, personal development, etika bisnis, dan lain sebagainya yang mampu mengubah seorang yang tidak bisa apa-apa hingga tumbuh menjadi sosok berbeda yang lebih spektakuler. Maka, syukur tiada terhingga atas skenario Allah mempertemukan dan menyatukan kami.

Waktu pun berjalan, frekuensi saya di Oriflame perlahan berkurang, namun komunikasi via WA maupun BBM selalu berjalan. Sosok Yankti masih menjadi mentor sekaligus motivator, menjadi sahabat tempat menumpahkan segala kegundahan dan kegelisahan di hati, bahkan tempat menumpahkan airmata.

Saat ini, kami disatukan kembali dengan komunitas KUMPULAN EMAK-EMAK BLOGGER. Hobi berbagi liputan makanan dan tempat wisata membuat seorang Primastuti Satrianto semakin menunjukkan eksistensi sebagai Blogger. Setiap perjalanan wisata alam ataupun wisata kuliner selalu dituangkan dalam goresan tuts keyboard menjadi sebuah rangkaian kisah yang renyah dan gurih, menjadikan pembaca dimanjakan dengan tempat referensi untuk menghilangkan penat dan lapar. Penasaran dengan isi blognya, langsung aja deh silakan blogwalking ke www.tamasyaku.com.

Dijamin langsung akan membuat kita bertanya ke diri sendiri, kapan terakhir tamasya. O iya ada kekhasan lagi nih dari Primastuti Satrianto, panggilan Ima dan Manda menjadi panggilan kesayangan bagi orang-orang yang mengenalnya, baik kenal secara personal ataupun kenal secara umum. Dan, sepertinya panggilan Manda menjadi favorit, saya pun kemudian suka dengan panggilan Manda, suka, suka, sukaaaaa. Pastinya, kalau ada Manda, ada Panda dong. Yap, Panda ini jelas pasangan dan teman hidup Manda, saya memanggilnya Mas Elton. Pria ramah senyum dan penyabar, yang selalu menemani suami saya, saat kami berkunjung ke rumah Manda. Teman-teman blogger selalu takjub dengan kekompakan pasangan suami istri yang satu ini. Karena dari kolaborasi Manda dan Panda, hadirlah foto-foto ciamik, cerita-cerita keren tempat wisata dan makanan lezat yang menggugah selera.

Hal yang sudah menjadi kebiasaan setiap bertemu Manda adalaaaaaaaaah, traraaaaa, selfie lho, eh wefie tepatnya. Manda ini jago banget soal selfie maupun wefie, hasilnya itu, seperti diambil atau dijepret oleh orang lain. Ilmu ini yang saya belum dapat dari Manda. Sehingga kedatangan Manda, secara otomatis membuat kami langsung bergaya dengan berbagai pose. Meskipun, suka selfie dan wefie, tidak menjadikan Manda seseorang yang hobi gonta-ganti gadget. Tiga tahun saya mengenalnya kesederhanaan Manda sangat terpancar, pun soal HP. Manda akan setia dengan HP itu, hingga akhirnya HP itu yang sudah tidak bisa lagi setia karena rusak.
FB Primastuti Satrianto

Manda adalah perempuan cantik bermata indah, saat kami berbincang jika Manda menyampaikan sesuatu, matanya selalu berbinar-binar. Jika saya bercerita wajahnya akan lurus, matanya dengan penuh kelembutan memandang, dan telinga dengan seksama mendengar. Sesekali saat berbicara, Manda akan membuat garis bibir yang tidak ada yang mempunya garis bibir seperti itu, kalau orang Jawa bilang terkadang “ngawet” atau seperti mengecap, tapi itu semua semakin menyempurnakan kecantikan wajahnya.
FB Primastuti Satrianto

Paragraf terakhir ini hanya bisa berdoa untuk Manda dan Panda senantiasa berbahagia, hidup penuh canda dan tawa. Selalu istiqomah menebar manfaat, menebar kebaikan, dan pastinya menebar kebahagiaan pula. Semoga semua hal yang dimohon kepada Pemilik Kehidupan ini dan semua doa-doa panjang yang dipanjatkan, senantiasa diperkenankan dan diijabah oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Aamiin Aamiin Ya Robbal ‘aalamiin.

Saturday, March 19, 2016

Asri Rahayu, Blogger Mungil Pecinta Novel






Profile Picture Asri di FB
Hampir dua tahun ini saya mengetahui, dan kemudian lebih mengenal sosoknya. Ia, bernama lengkap Asri Rahayu M S. Blogger satu ini, sosoknya mungil dan suaranya seperti balita. Saya menjadi familiar dengan keberadaannya, karena konsistensi Asri dalam merangkai kata dan kalimat berisi review dari sebuah buku. Kemudian review itu sering diupload di group IIDN Jogja. Doi sendiri belum pernah datang ke kopdar IIDN Jogja, namun beberapa bulan terakhir aktif di KEB, Kumpulan Emak-Emak Blogger Jogja. Saya menyebutnya si bungsu, karena penampilan fisiknya, dan bisa jadi umurnya memang paling bontot, disamping masih menjemput jodoh yang akan menjadi imamnya baik dunia maupun akhirat.


Arisan ilmu, 19 Maret 2016. Asri paling kanan (candid selfie)

Jujur genre buku antara saya dan Asri sangat berbeda jauh, Asri sangat mencintai novel, sedangkan saya, kurang berminat. Saya paling suka buku motivasi dan agama, yang bagi Asri buku motivasi itu berat, membosankan dan membuatnya ngantuk. Bagi seorang Asri, novel terkadang “bikin baper”, tapi setidaknya menyeimbangkan antara otak kiri dan otak kanan, karena dengan novel, kita bisa berimajinasi. Jika novel tersebut membuatnya mewek, maka bantal dan camilan menjadi sasaran kehidupannya (hatsaaah). Asri juga tidak suka politik, pas ada kesempatan ada undangan dari MPR RI bagi para netizen Jogja, Asri pun mundur dengan teratur. Bahkan Asri ini juga tidak suka nonton televisi, waktu luangnya lebih baik buat ngeblog. Yups, ini sih kereeen, harapan saya, Asri akan menemukan pujaan hati yang juga tidak suka nonton televisi, sehingga sama-sama bersinergi untuk menghilangkan si kotak alat eletronik itu dari kehidupan berumah tangga.

Hobi Asri mereview novel membuat ia sering mendapatkan novel gratis. Kalau ini memang sangat menyenangkan, dari hobi bawa hoki. Tipikal Asri memang pemalu, tertutup, banyak diamnya kala pertama bertemu dan berkenalan dengan orang. Tapi ternyata setelah lebih mengenalnya, rame juga blogger satu ini. Asri juga tidak suka ngemall saudara-saudara. Enak sangat menguntungkan kelak untuk suami Asri, karena sangat irit dan tidak buang-buang uang hanya untuk kongkow di Mall. Kata Asri dalam setahun, tidak ada lima kali ia ke Mal. Kebayang kan dengan orang lain yang tiap bulan ke Mall. Hal ini sama juga dengan saya, kami sekeluarga ke Mall karena memang ada barang atau sesuatu yang ingin dibeli. Jika pun kesana karena rengekan anak yang ingin main ke Mall. Nah, kebiasaan tidak suka ngemall ini juga bisa ditularkan kelak ke anak-anak. Ini sebagian isinya kompor panas buat Asri supaya segera melengkungkan janur kuning di jalan masuk ke rumahnya.


Koleksi novel ter-gress yang direview
Untuk membaca review yang lain langsung ke blog Asri ya www.asrirahayu.com

Nah, berikut lima pertanyaan yang saya ajukan ke Asri

1) Apakah pekerjaan sekarang sudah sesuai dengan disiplin ilmu yang diambil?
“Sebenarnya mau dibilang sesuai dengan ilmu yang diambil nggak juga ya, karena pada kenyataannya antara kuliah sama kerja itu beda jauh. Kenapa? Karena di dunia perkuliahan banyak teori yang dipakai, sedangkan dunia kerja, banyak prakteknya. Tapi setidaknya ilmu yang didapat di perkuliahan, sedikit-sedikit ada yang nyambung”

2) Apakah pekerjaan sekarang sudah klik dan nyambung dengan dunia blogging?
“Nggak nyambung, tapi disambung-sambungin aja. Asri kadang sukanya gitu, setidaknya ada ilmu yang didapat di dunia kerja dan bisa ditulis di blog”

3) Apakah hobi membaca ini sejak kecil sudah muncul?
“Iya semenjak kecil, semenjak udah bisa baca, udah kenal huruf. Terlebih Bapak dan Ibu suka banget beliin majalah Bobo waktu itu, dan buku cerita bergambar”

4) Blogger kan sekarang ini bargaining positionnya tinggi, menurut Asri bagaimana?
“Iya, memang tinggi. Tapi mungkin terkadang sampai nggak masuk diakal juga sih ya”
5) Apabila di prosentase, bagi Asri, tujuan ngeblog lebih pada kepuasan hati untuk sharing is caring” atau pada pencarian materi?
“Kepuasan hati, untuk materi, itu Asri anggap sebagai bonus rezeki dari Allah. Karena lebih senang kalau apa yang kita tulis memberikan manfaat buat orang banyak”

Pecinta buku, dan suka baca buku ini, kalau sudah ngobrol ternyata banyak becandanya. Karena di whatsapp, terpaksa deh ga bisa nyubit. Tulisan ini saya susun, berdasarkan obrolan dengan Asri di whatsapp. Maklum baru sekali ketemu, langsung nulis tentang sosok Asri.

Asri, semoga tulisan ini bisa menjadi cermin untuk kita.
Semoga apa yang dicita dan citakan Asri selalu diijabah oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Aamiin

Friday, February 19, 2016

Ika Koentjoro, Entrepreneur Blogger

Siang itu matahari sangat terik, bergegas saya mempercepat laju si roda dua menuju ke Resto Bumbu Desa, tempat kegiatan syawalan KEB berlangsung. Sampai disana, kursi telah penuh, dengan sedikit malu saya tarik satu kursi dan ikut duduk bersama mereka. Pertemuan di bulan Desember 2014 itu, menjadi pertemuan pertama dengan komunitas KEB Jogja. Disitulah, awal pertama berjumpa dengan seorang Ika Koentjoro. 
Saya memperkenalkan diri, satu demi satu saya salami, hingga sampai di kursi Ika Koentjoro, dalam hati "Oh, ini ...... Ika Koentjoro", sosok yang beberapa minggu sebelum acara berlangsung sering saya ganggu dengan WA. Perempuan berpembawaan sederhana dan kalem, dengan gaya bicara lembut serta suara syahdu, memperkenalkan ke saya emak-emak yang sudah lebih dulu duduk. Bahkan Mak Ika juga yang mencarikan kursi kosong (sebelum kursinya lalu saya tarik sendiri), memesankan makanan, Masya Allah, menuliskan ini, ingatan saya kembali dan ada rasa tersanjung menyeruak. Terimakasih Mak Ika.
Blog Mak Ika termasuk yang sering saya sambangi, meski kadang tidak meninggalkan jejak. Sedikit demi sedikit menjadi tahu aktifitas harian Mak Ika, kesukaannya, dan terutama tentang bisnisnya. Inilah kenapa "Entrepreneur" saya sebutkan dijudul, meski tidak banyak yang saya ketahui, yang pasti sudah cukup lama Mak Ika memulai bisnis. Sehingga hal yang wajar sampai dengan saat ini banyak pencapaian yang telah diperoleh Mak Ika.
Kebaikan dan kelembutan hatinya, dipadu dengan hobby food photography merupakan kombinasi unik yang saling memberi warna.

Silakan dinikmati koleksi foto Mak Ika yang saya ambil dari facebooknya.




Bagaimana? Cukup menggoda kan? selanjutnya, terserah anda .....
Ingin mengenal lebih dekat dengan Ika Koentjoro, ini rumah mayanya http://ikakoentjoro.blogspot.co.id/
Satu hal yang pasti, mengenal, dan lebih dekat dengan seorang Ika Koentjoro, adalah sebuah anugrah.  

Sunday, January 31, 2016

Ketika Anak Nyantri

Jelang sebulan, terhitung sejak tanggal 3 Januari 2016, kami berdua, saya dan suami melepas Yazdan. Tepatnya mengantar dan memasrahkan keberlangsungan pendidikan Yazdan di pondok pesantren. Yazdan, anak semata wayang kami yang akhir Maret 2016 genap berusia 10 tahun. Genap tiga minggu saya berurai airmata. Minggu keempat, lumayan berkurang.

Rasa sedih, sepo, “nggrantes”, semua menyesakkan dada dan berbaur menjadi satu menghimpit qolbu. Proses untuk sepenuhnya ikhlas melepas anak menjadi santri ..... Ternyata......... tak semudah seperti beberapa hari ditinggal Yazdan liburan di Klaten, tempat kakung dan uti.

Keputusan Yazdan menjadi santri dan mondok dikarenakan beberapa pertimbangan :
  • Jarak tempuh rumah ke sekolah lebih lama dan semakin jauh. Kami sudah tidak menggunakan jasa antar jemput. Teknis untuk Yazdan pulang ke rumah terkadang membuatnya harus menunggu lama, belum kalau pas hujan. 
  • Sesuatu hal di sekolah yang membuat Yazdan tidak betah, dan keinginan pindah semakin menguat. 
  • Lingkungan komplek yang heterogen, membuat kami kuatir, karena Yazdan masih termasuk tipikal anak yang mudah dipengaruhi. 
  • Kebutuhan Yazdan akan komunitas, yang terbalur akrab dalam kebersamaan sangatlah besar. Sehingga jika dalam satu hari tidak bertemu dengan teman-temannya, Yazdan menjadi bosan dan gelisah. Memang wajar adanya, kebutuhan bermainnya masih powerfull.
Finally, saya dan suami memberikan pilihan bagaimana kalau masuk pesantren lebih awal. Karena sejak kecil, kami berdua sudah menanamkan dalam hati Yazdan bahwa kelak pasti masuk pondok pesantren. Namun, sejak dulu rencana dan rancangan kami untuk Yazdan masuk pondok, jika Yazdan lulus SD, dan masuk ke SMP. Ternyata skenario Allah Subhanahu wa Ta’ala maju 2,5 tahun lebih awal.

T R Yazdan Muhammad


Kekuatiran yang menggelayut, jelas proses adaptasi di pondok, pertanyaan-pertanyaan “Apakah Yazdan krasan?”, “Bagaimana pola makan dan hobi jajannya Yazdan?”, “Bagaimana jadwal tidur dan bangunnya Yazdan?” dan sekian pertanyaan lainnya.

Hari pertama kami antar, dalam sehari dua kali, saya dan suami bolak-balik. Alhamdulillah, Yazdan dengan cepat menyesuaikan diri, langsung akrab, membaur, dan menyatu dengan teman-temannya satu asrama. Bersama 18 anak lainnya, Yazdan tinggal dalam satu aula, dan ada 3 pembina yang menjadi mentor sekaligus kakak. Sosok ketiga pembina ini akan saya kupas dalam tulisan yang lain.

Dan, saya pun kembali ke proses untuk terus belajar ikhlas dan ridho dengan keberadaan anak di pondok. Karena di rumah hanya tinggal berdua, saya dan suami.

Memaknai bahwa anak saya belajar agama dengan intens

Memaknai bahwa anak saya setiap hari menghafal Al Quran

Memaknai bahwa anak saya setiap hari membaca Al Quran

Memaknai bahwa anak saya setiap hari mentadabburi Al Quran

Memaknai bahwa anak saya setiap hari mendapatkan pengalaman baru

Memaknai bahwa anak saya, kelak pasti lebih saleh dan tangguh.

Memaknai bahwa anak saya pasti lebih bahagia



Lalu bagaimana dengan suami saya?

Beliau sangat tenang, tidak ada sedikit pun galau, apalagi deraian airmata.

Sejak lulus MI (Madrasah Ibtidaiyah) di sebuah desa di tepi pantai Lobuk, bapak dan ibu langsung memasukkan suami ke pondok pesantren. Karena hal ini sudah menjadi tradisi di Madura. Saya pun tahu, suami juga memendam rindu yang sama. Setiap saya telpon, spontan langsung merangsek mendekati saya, dan memasang kuping dibalik handphone yang saya pegang.

Laki-laki lebih logic mengedepankan akal daripada kaum ibu yang biasanya perasaan dulu mengemuka. Suami juga selalu menenangkan saya saat tangis pecah dan rindu pada Yazdan semakin membuat perasaan saya merana, dikarenakan kesepian yang teramat sangat.

Meski saya dan suami menjalani hari-hari berdua, kami yakini inilah skenario terindah dan terbaik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kini PR ada didalam hati saya, untuk lebih bisa bernegosiasi dengan perasaan yang terkadang masih melow drama. Apapun yang terjadi di waktu mendatang, baik tiga atau enam bulan, bahkan tahun depan, hanya Allah yang Maha Tahu segalanya.

Jujur, saya akui, ada riak dalam hati, saya ingin keadaan kembali seperti dulu, Yazdan ada di rumah. Setiap malam saya bisa menciumi dan memeluknya. Setiap saat saya bisa bercanda sepuasnya. Ah, semua masih harus saya tahan. Seminggu terakhir ini meski airmata lumayan berkurang, tapi saya masih “ngributi” .... merayu suami untuk menyetujui usul saya, Yazdan kembali ke rumah. Cukup sekolah sampai sore dan kembali ke sekolah keesokan harinya.
Baiklah, abaikanlah perasaan saya ini.


Berikut informasi mengenai pondok tempat Yazdan menuntuk ilmu agama dan ilmu dunia.



Pondok Pesantren Wahid Hasyim


Ini alamatnya :

Jalan Wahid Hasyim No. 3, Gaten, Condongcatur, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pondok dari sisi depan, masjid tertutup aula
Bangunan untuk santri&santriwati menghafal Quran
Asramapun menjadi tempat main **kaos kuning, itulah jagoan ganteng**

Berada di tengah kota Yogyakarta, padat penduduk dan lalu lintasnya ramai. Tepatnya, posisi Pondok Pesantren Wahid Hasyim berada di sebelah barat utara Amplaz, maksudnya ke barat lalu ke utara sedikit.

Meski perasaan saya sebagai seorang ibu masih terombang-ambing, namun dalam hati yang paling dalam, ada rasa trenyuh melihat anak-anak lain dari luar kota Jogja yang bersedia “mondok” dan jauh dari orangtua. Pun, terselip bangga, saat anak saya berjalan bersama santri lainnya, menuju masjid.

Untaian doa yang saat ini selalu terlantun dalam bibir dan dalam hati, agar anak selalu dalam lindungan-Nya. Toh, jarak yang sangat dekat dari kantor saya ke pondok sangat memudahkan dalam menengok Yazdan, kapan pun saya mau.

Terimakasih sahabat, feel free for sharing.



Gambar berikut posisi masjid yang berada di belakang aula, tidak bisa saya jepret secara utuh. Mohon dimaklumi.

Posisi masjid bagian depan

Tempat jamaah putri

Sisi samping masjid

Sunday, December 20, 2015

Jogja Bay Waterboom Paling Spektakuler

Selamat sore di ahad yang sejuk para sahabat.
Semoga hujan di ahad siang hingga sore ini menjadikan berkah untuk bumi Jogja, Aamiin.
Hari ini, tanggal 20 Desember 2015 Masehi atau bertepatan dengan tanggal 8 Robi’ul Awwal 1437 Hijriyah, ada dua kegiatan yang spektakuler di Jogja.

Jogja Air Show dan pembukaan Jogja Bay.

Sore ini yang ingin saya bagi pengalaman pembukaan Jogja Bay.

Apa itu Jogja Bay, berikut ulasan dari Jogja.co :

"Taman wisata air Jogja Bay Adventure Pirates Waterpark di Maguwoharjo akan segera diresmikan Gubernur DIY, Minggu (20/12/2015). Jogja Bay yang diklaim sebagai waterboom terbesar, terlengkap dan tercanggih se-Indonesia itu berpotensi mendatangkan pengunjung dalam jumlah besar.

Jogja Bay berdiri di tanah kas Desa Maguwoharjo seluas 7,7 hektar yang berlokasi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo Depok. Wisata air ini mulai beroperasi 20 Desember mendatang dengan menawarkan tiket Rp 60.000 untuk anak-anak dan Rp 90.000 untuk dewasa. Untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun gratis, dan dewasa di atas 65 tahun Rp 60.000.

Ada 19 wahana air menarik yang disuguhkan. Salah satu wahana unggulannya adalah wahana How to survive in stunam and earthquake. Wahana ini sekaligus edukasi bagi masyarakat bagaimana penyelematan diri saat terjadi ombak tsunami. Ada delapan ombak besar termasuk ombak tsunami. Nanti disertai penyelamatan diri untuk setiap ombak sehingga warga tahu bagaimana cara menghadapinya.

Jogja Bay mengusung tema bajak laut yang terinspirasi dari water bom di Bali dan waterpark di Orlando. Bambang mengatakan, pembangunan Jogja Bay telah memperhitungkan peraturan pemerintah daerah. Seperti halnya tenaga kerja, dari 320 orang 80% berasal dari Jogja. Selain itu ada pengolahan limbah di samping barat kawasan Jogja Bay."

Secara viral berita pembukaan ini beredar di group-group Whatssap dan social media.

Sejak awal, jujur saya tidak berminat. Tapi karena jagoan semata wayang memaksa akhirnya jam 11.00 kami berangkat dari rumah.

Berikut selayang pandang.... eh selayang foto hasil jepretan dari kamera pocket Nikon, yang selalu menemani kemanapun saya pergi.

Foto berikut menggambarkan animo masyarakat yang tertarik dan akhirnya datang, parkir mobil dimana-mana. Bahkan pengunjung rela berjalan dari area parkir ke pintu utama. Tapi sepertinya memang rutenya seperti itu. Lumayan jauh lokasi parkir ke pintu masuk. Sekilas tadi saya lihat ada kereta mini yang bisa membawa penumpang.
Mobil-mobil ini berada di parkiran belakang, tepatnya sisi barat dari Jogja Bay

Saya, suami, dan jagoan kami berjalan dari area parkir ke pintu utama

Mobil-mobil ini parkir di depan Jogja Bay (ternyata boleh)
 Nah, ini sumingrahnya duo kegantengan saya, eh si bocil manyun deng


Senyumnya Abi Yazdan, uhum

Setelah berjalan yang bikin kaki saya lumayan pegel, sampailah kami di pintu utama.
Lautan manusia menyatu.
Entah berita darimana yang kami ketahui, pembukaan ini gretong getoh.... Jebol yo mbayar, dan antriannya aduhaaaai ........ Beberapa wahana kami perhatikan belum beroperasi, sehingga pertimbangan kami rugi jika masuk. 
Baiklah akhirnya foto-foto sajalah .....
Para sahabat bisa menikmati hasil jepretan berikut :























Sabar menunggu

Antriannya lumayan panjang

Seperti antri tiket kereta pas mau mudik lebaran (pengalaman pribadi)


Layar putih ini tidak tahu saya fungsinya untuk apa


Setting kapal ini yang paling saya sukai



Kapalnya itu looooo... ga nguatin.....megaaaah
Antusiasme masyarakat luar biasa ya, sampai berdiri buat ngantri, bahkan dibela-belain duduk di bawah. 
Sekian dulu sahabat, liputan kondisi Jogja Bay hari ini.
Semoga dengan keberadaan Jogja Bay di daerah Maguwo ini mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sleman, terbukanya lapangan pekerjaan baru, serta masyarakat mampu menciptakan peluang untuk berwirausaha.
Keep POSITIVE THINKING